Home sejarah

Antifa, Kolompok Anti Fasis Pertama Di Dunia



Antifa, kelompok anti-fasis yang kerap berpakaian serba hitam dan menyamarkan wajah dengan sapu tangan berwarna serupa (disebut juga sebagai taktik "black-bloc"), punya salah satu taktik andalan dalam setiap aksinya: “Nazi Punching”. Tinju untuk Nazi tersebut bermakna harafiah: serangan fisik.
Organisasi anti-fasis pertama dibentuk oleh Kommunistische Partei Deutschlands (Partai Komunis Jerman/KPD) pada 10 Juli 1932 dan diberi nama Antifaschistische Aktion (selanjutnya ditulis AA). Ketika itu, AA juga telah menggunakan logo bendera merah-hitam ciptaan Max Keilson dan Max Gebhard, dua seniman Jerman yang tercatat sebagai anggota Assoziation Revolutionärer Bildender Künstler Deutschlands (Asosiasi Seniman Revolusioner Jerman/ARBKD).
Antifaschistische Aktion (Antifa) merupakan gerakan politik anti-fasisme yang berkembang di Jerman semasa Perang Dunia II, terutama ketika Partai Nazi dan Hitler mulai menggeliat. Dekade 1930-an menjadi era menguatnya pengaruh politik Nazi, yang sebelumnya relatif tidak populer, yang kemudian merengkuh dukungan sebanyak 37% pada pertengahan tahun 1932. Partai KPD (Partai Komunis Jerman) menjadi salah satu organisasi berbasis pekerja yang mendapat opresi dari Nazi. Antifa sendiri merupakan kelompok pemberontak bentukan KPD yang bertujuan memusnahkan fasisme melalui revolusi sosialistik. Salah satu objek demonstrasi dan pelemahan oleh Antifa adalah SA (''Sturmabteilung''), yang merupakan kelompok paramiliter bentukan Nazi era Hitler. Kegagalan bersatunya dua partai basis pekerja, yakni KPD dan SPD (Partai Sosialis Jerman) untuk menghadang gelombang fasisme menjadi penyebab melenggangnya Partai Nazi ke tampuk kekuasaan tahun 1933. Ironisnya, Nazi menang tanpa perlawanan yang berarti dari front buatan dua organisasi beraliran 'kiri' tersebut. Kekalahan tanpa perlawanan adalah jenis kekalahan terburuk yang harus ditelan. Tetapi, setelah Nazisme mulai berkuasa, kedua kubu dari kelompok sosial demokrat dan komunis bersatu di bawah bendera Antifa menjadi oposisi fasisme. Walaupun partai politik dibungkam, tradisi dan nilai sosialisme tetap digulirkan, inilah yang disebut anti-fasisme level jalanan. Beberapa serikat pekerja dan kelompok sosialis menjadi pihak resisten meskipun tengah berada di cengkraman kekuasaan Nazi, utamanya pekerja dari sektor industri. Seusai Perang Dunia II, Antifa tetap bertahan dengan ideologinya, yang secara diametrik berlawanan dengan fasisme, bahkan bermultiplikasi, dan kian mempengaruhi kelompok anti-fasisme lain di luar Jerman. Salah satunya di Amerika Serikat yang beroposisi terhadap kelompok supremasi kulit putih yang banyak beraliran konservatif. Selain itu, kemunculan Neo-Nazi juga mengintensifkan perlawanan kelompok anti-fasis, yang kerap berafiliasi dengan kelompok anarkis.
Gerakan antifasis dimulai di beberapa negara Eropa pada tahun 1920-an. Contohnya, saat gerakan Fasisme Italia mulai menyebar, organisasi seperti Arditi del Popolo dan Uni Anarkis Italia muncul pada tahun 1919–1921 untuk melawan gerakan tersebut. Gerakan ini kemudian menyebar ke negara-negara lain, dan menjadi gerakan yang sangat penting sebelum dan selama Perang Dunia II ketika negara-negara fasis dari Blok Poros ditentang oleh negara-negara Sekutu dan gerakan perlawanan lainnya. Antifasisme merupakan suatu pergerakan yang memiliki berbagai sudut pandang yang berbeda, seperti demokrasi sosial, nasionalisme, liberalisme, konservatisme, komunisme, Marxisme, kapitalisme, anarkisme, sosialisme, dan sentrisme.
Sesuai istilahnya, “Nazi Punching” memang menyasar kalangan yang dianggap memiliki ciri ideologis selayaknya kaum Nazi: para pendukung supremasi kulit putih, anti-kulit berwarna, anti-muslim, atau ekstremis sayap kanan. “Nazi Punching” hanyalah satu dari serangkaian aktivisme (ilegal) yang memang menjadi prinsip dari aksi langsung Antifa (direct action).
Membakar ATM, melempari bank atau restoran cepat saji dengan batu, merusak properti, berkelahi dengan polisi, membakar ban, hingga doxing (perilaku mengumpulkan informasi pribadi seseorang untuk disebarkan ke publik tanpa persetujuan si pemilik) adalah beberapa jenis taktik dan ekspresi politik sejumlah gerakan Antifa baru-baru ini, khususnya yang memakai metode black bloc.
Pada Januari 2017 lalu, Richard Spencer, pentolan ideologis alt-right, sebuah gerakan pro-supremasi kulit putih, pernah mendapat bogem mentah dari seorang pemuda dengan dandanan khas black bloc ketika diwawancarai dalam acara pelantikan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat.
Video pemukulan yang menimpa Spencer kemudian tersebar di media sosial. Banyak netizen yang menyayangkannya, sebab bagaimanapun kekerasan semestinya tidak perlu dilakukan untuk menyerang orang lain. Namun demikian, tak sedikit pula yang merayakan pemukulan tersebut, terutama oleh mereka yang mengaku anti-Trump dan anti-rasis.
Apa boleh buat, provokasi Spencer dan kaum Alt-Right memang mudah menyulut emosi. Mereka merasa kepentingan ras kulit putih mulai terpinggirkan dalam demokrasi AS kini. Selain itu, mereka juga menilai kebudayaan 'asli' kulit putih Amerika telah dikepung kebudayaan lain.
Dalam konferensinya bersama sekitar 200-an aktivis ultra-kanan pada 2016 lalu, Spencer menyatakan bahwa era Trump adalah era kebangkitan identitas kaum kulit putih. Ia juga menegaskan sikap anti-Yahudi sembari mengutip sejumlah propaganda Nazi yang menyatakan bahwa orang kulit putih adalah "anak-anak matahari" (“children of the sun”).
Tak ketinggalan, Spencer pun menuduh media arus utama sebagai “Lügenpresse”—istilah ciptaan Reinhold Anton, memiliki arti “Pers Penipu”, yang kemudian oleh Nazi dijadikan salah satu slogan mereka. Ketika menutup pidato, ia turut memberikan hormat ala Nazi sambil berseru lantang: “Hail Trump! Hail our people! Hail victory!”.
Bagi Antifa, kekerasan adalah jalan mutlak dalam tiap perjuangan melawan fasis. Masalahnya, kaum fasis sejak awal sama sekali tak punya masalah dengan penggunaan kekerasan.
Selain AA, juga terdapat beberapa kelompok anti-fasis di Jerman seperti Reichsbanner Schwarz-Rot-Gold, Roter Frontkämpferbund, Communist Kampfbund gegen den Faschismus, dan Roter Massenselbstschutz. Semua organisasi tersebut dibentuk seiring dengan kian maraknya serangan organisasi paramiliter Nazi yang mengarah ke kalangan kiri, minoritas Yahudi dan Gipsi, serta serikat-serikat buruh kala itu.
Adapun di Amerika, kemunculan berbagai kelompok anti-fasis juga dimulai pada periode yang kurang lebih sama seperti di Jerman. Ketika itu mereka hadir untuk melawan organisasi pro-Nazi seperti Friends of New Germany. Kendati demikian, tidak ada afiliasi apapun antara kelompok-kelompok anti-fasis di kedua negara tersebut.
Sejak Perang Dunia II berakhir, sindikat anti-fasis terus ada dan berlipat ganda. Di Inggris, mereka lahir dari rahim skena punk rock yang melawan dominasi kaum skinhead kulit putih dan kalangan Neo-Nazi. Di Jerman, kecenderungan anti-fasis kembali merebak seiring runtuhnya Tembok Berlin. Sementara pada periode akhir 80-an, muncul organsiasi Anti-Racist Action (ARA) di Amerika yang begitu militan melawan kebangkitan Neo-Nazi hingga Ku Klux Klan.
Antifa yang dikenal saat ini, dengan taktik penyamaran “black-bloc” dan “Nazi-punching”, mulai marak di Amerika pada periode 2000-an awal. Keberadaan mereka semakin berlipat ganda sejak Trump memutuskan bertarung di kancah pilpres Amerika sejak 2016 lalu. Perbedaan mendasar antara kelompok anti-fasis periode awal dengan yang muncul pasca-Perang Dunia II adalah ketiadaan pemimpin dan struktur organisasi.

Melihat konteks historisnya, maka prinsip kekerasan Antifa sejatinya merupakan upaya pertahanan diri dari berbagai tindakan ekstrem fasis yang membahayakan hak-hak sipil warga negara. Demikian yang disampaikan Scott Crow, bekas anggota Antifa selama nyaris 30 tahun, kepada CNN.
"Ide Antifa adalah bahwa kami pergi ke mana mereka (sayap kanan) pergi. Bahwa pidato kebencian bukanlah kebebasan berbicara. Jika Anda membahayakan orang dengan apa yang Anda katakan dan tindakan yang ada di balik itu, maka Anda tidak memiliki hak untuk melakukannya. Jadi, kami memutuskan untuk berkonflik demi mengenyahkan mereka di manapun. Sebab kami tidak percaya bahwa Nazi atau fasis dari garis mana pun berhak memiliki juru bicara."
Persoalannya lagi-lagi adalah sejauh mana taktik kekerasan Antifa bisa dikontrol oleh anggota-anggotanya sendiri. Masalahnya, kekerasan yang dilakukan Antifa amat rentan menyasar mereka yang sama sekali bukan kaum sayap kanan atau Neo-Nazi. Satu contoh, dalam bentrokan yang terjadi di University of California awal tahun lalu, seorang mahasiswa yang merupakan Muslim Suriah sempat kena bogem dari demonstran Antifa hanya karena ia "tampak seperti seorang Nazi".

Baca juga :

to Top